Hierarki Ruang Sakral–Profan Sebagai Mekanisme Resiliensi Kultural Kawasan Pusaka Masjid-Makam Sendangduwur, Lamongan

Authors

  • Ayub Fathur Rahmansyah Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
  • Retno Hastijanti Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
  • Darmansjah Thjahja Prakarsa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.38035/jgit.v3i3.824

Keywords:

Behavior Settings, Cagar Budaya, Pesisir Jawa, Wisata Religi, Zonasi

Abstract

Kawasan pusaka religi di pesisir utara Jawa menghadapi tekanan ganda: degradasi fisik-spasial dan lemahnya implementasi tata kelola formal. Kajian resiliensi pusaka selama ini menempatkan regulasi dan intervensi teknis sebagai penopang utama, sedangkan peran struktur ruang kultural belum banyak diuji secara empiris. Penelitian ini menguji hierarki ruang sakral–profan sebagai mekanisme resiliensi kultural pada kawasan Masjid-Makam Sendangduwur, Paciran, Lamongan, situs akulturasi Hindu-Islam abad ke-16. Pendekatan kualitatif deskriptif-analitis memadukan observasi lapangan dua sesi, pemetaan perilaku tiga tipologi pengguna, pengukuran spasial, wawancara, dan telaah dokumen regulasi. Tiga temuan diperoleh: kawasan tersusun dalam tiga lapis gradasi (profan, threshold, sakral) mengikuti topografi teras berundak; zona profan dan threshold mengalami degradasi nyata seiring lebih dari satu dekade tidak terimplementasinya rencana tata bangunan; sedangkan zona inti sakral tetap utuh secara fisik dan ritual. Hierarki sakral–profan yang dipelihara praktik ziarah bekerja sebagai mekanisme resiliensi mandiri namun selektif. Penguatan zona threshold direkomendasikan sebagai strategi intervensi yang selaras.

References

Anisa, A. (2020). Kajian identifikasi ruang sakral pada kawasan bersejarah: Studi kasus Kawasan Menara Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Penelitian LPPM UMJ. Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Barker, R. G. (1968). Ecological psychology: Concepts and methods for studying the environment of human behavior. Stanford University Press.

Eliade, M. (1959). The sacred and the profane: The nature of religion. Harcourt, Brace & World.

Folke, C., Carpenter, S. R., Walker, B., Scheffer, M., Chapin, T., & Rockström, J. (2010). Resilience thinking: Integrating resilience, adaptability and transformability. Ecology and Society, 15(4), 20.

Gustina, F. E., Putri, N. A., Sarjiki, M., & Febriani, S. (2025). Nilai simbolis dan budaya pada arsitektur Masjid Agung Demak. AT-THARIQ: Jurnal Studi Islam dan Budaya, 5(1), 32–42.

Holling, C. S. (1973). Resilience and stability of ecological systems. Annual Review of Ecology and Systematics, 4, 1–23. https://doi.org/10.1146/annurev.es.04.110173.000245

Holtorf, C. (2018). Embracing change: How cultural resilience is increased through cultural heritage. World Archaeology, 50(4), 639–650. https://doi.org/10.1080/00438243.2018.1510340

ICOMOS Australia. (2013). The Burra Charter: The Australia ICOMOS charter for places of cultural significance. Australia ICOMOS.

Jigyasu, R. (2013). Heritage and resilience: Issues and opportunities for reducing disaster risks. UNISDR Global Platform for Disaster Risk Reduction.

Orr, S. A., Richards, J., & Fatorić, S. (2021). Climate change and cultural heritage: A systematic literature review (2016–2020). The Historic Environment: Policy & Practice, 12(3–4), 434–477. https://doi.org/10.1080/17567505.2021.1957264

Peraturan Bupati Lamongan Nomor 3.1 Tahun 2015 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Makam Sendangduwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 18/PRT/M/2010 tentang Pedoman Revitalisasi Kawasan.

Quesada-Ganuza, L., Garmendia, L., Roji, E., & Gandini, A. (2021). Do we know how urban heritage is being endangered by climate change? A systematic and critical review. International Journal of Disaster Risk Reduction, 65, 102551. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2021.102551

Ramadhana, D., & Dharoko, A. (2018). Ruang sakral dan profan dalam arsitektur Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. INERSIA: Informasi dan Ekspose Hasil Riset Teknik Sipil dan Arsitektur, 14(1), 13–25. https://doi.org/10.21831/inersia.v14i1.19491

Ravankhah, M., de Wit, R., Argyriou, A. V., Chliaoutakis, A., Revez, M. J., Birkmann, J., Žuvela-Aloise, M., Sarris, A., Tzigounaki, A., & Giapitsoglou, K. (2019). Integrated assessment of natural hazards, including climate change's influences, for cultural heritage sites: The case of the historic centre of Rethymno in Greece. International Journal of Disaster Risk Science, 10(3), 343–361. https://doi.org/10.1007/s13753-019-00235-z

Shirvani, H. (1985). The urban design process. Van Nostrand Reinhold.

Siswayanti, N. (2015). Dakwah kultural Sunan Sendang Duwur. Buletin Al-Turas, 21(1), 1–14.

Siswayanti, N. (2016). Fungsi Masjid Sendang Duwur sebagai wujud akulturasi budaya. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi), 2(2), 134–154. https://doi.org/10.18784/smart.v2i2.382

Siswayanti, N. (2018). Akulturasi budaya arsitektur Masjid Sendang Duwur. Buletin Al-Turas, 24(2), 211–228. https://doi.org/10.15408/bat.v24i2.6642

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130.

Published

2025-10-25

How to Cite

Rahmansyah, A. F., Hastijanti, R., & Prakarsa, D. T. (2025). Hierarki Ruang Sakral–Profan Sebagai Mekanisme Resiliensi Kultural Kawasan Pusaka Masjid-Makam Sendangduwur, Lamongan. Jurnal Greenation Ilmu Teknik, 3(3), 138–145. https://doi.org/10.38035/jgit.v3i3.824